TAMAN ROH
Ini adalah untuk yang ke tiga kali nya dalam setahun ini aku berpindah tempat tinggal karna kerjaan ayahku,tapi kali ini ayah janji ini yang terakhir atau setidak nya lebih lama dari kepindahan kami yang sebelum nya.
Sudah sebulan dan Ibu masih sibuk mengatur barang-barang di ruang tamu,kami tinggal di sebuah rumah tua yang besar dan bertingkat,Ayah membelinya untuk meyakinkan ku bahwa kami akan tinggal lama disini,kamar ku ada di lantai atas,sebuah kamar berukuran sedang yang jika pagi hari di buka kau akan langsung di sambut udara dingin dari taman di sebrang perumahan kami,jika malam hari tiba dari jendela ku aku dapat melihat komidi putar raksasa yang berdiri angkuh di tengah taman itu,besi-besi nya hitam dan di tumbuhi lebat tumbuhan rambat,jika sedang terang bulan bayangan nya yang jatuh ke kamar ku sangat mengerikan,pohon-pohon besar di sekeliling nya yang tumbuh lebat tak terurus membuat bayang seolah ada banyak orang di dalam komidi putar itu,dan jika angin sedang kencang maka komidi putar itu akan bergerak lambat menimbulkan suara gesekan pada besi-besi nya yang berkarat,tapi jika kau dengarkan dengan cermat suara nya itu bukan suara gesekan batang besi,tapi seperti rintihan orang,ya...rintihan banyak sekali orang.
Sudah sekian lama tidak ada yang berani menempati rumah ini karna posisi rumah ini yang berhadapan langsung dengan taman yang entah kapan di beri nama taman roh itu,bayangkan lah sebuah perumahan dengan banyak rumah berderet-deret dan saling berhadapan,tapi tepat di depan rumah ku adalah lapangan kosong dan jalan setapak yang langsung menghubungkan ke taman itu,kata Dodo teman ku,dulu didepan rumah ku ada sebuah rumah lagi,tapi rumah itu di bongkar setelah terjadi kebakaran hebat di taman yang memakan banyak jiwa,dan setelah bangunan nya di robohkan tanah bekas rumah itu dibiarkan kosong
Taman itu sendiri dulunya adalah sebuah taman biasa,sampai pada suatu hari rombongan besar pasar malam tiba dan memenuhi taman dengan beraneka macam permainan dan sebuah komidi putar raksasa yang menjadi pusat daya tarik orang,taman itu jadi ramai setiap malam nya karna jumlah pengunjung nya yang semakin banyak,tapi karna sering nya orang iseng masuk dan membuat kacau pertunjukan sirkus tanpa membayar tiket maka di depan taman itu di pasang gerbang tinggi yang hanya mempunyai satu jalan masuk kecil yang muat untuk satu orang yang juga digunakan untuk membayar tiket masuk taman.
Hingga suatu hari terjadilah peristiwa itu,kebakaran hebat yang menghanguskan hampir semua yang ada di sana ,termasuk para pengunjung nya,sedikit sekali yag bisa keluar dengan selamat karna pintu gerbang yang terlalu sempit
Esok nya yag tersisa dari taman itu hanya mayat-mayat yang gosong ,reruntuhan tenda sirkus dan aneka permainan yang semuanya telah menjadi abu dan sebuah komidi putar raksasa yang besi-besi nya menghitam,ya...hanya itu.
Sejak itu taman itu tak pernah di kunjungi bahkan dilewati pun tidak!dan tak ada yang pernah berhasil menyingkirkan besi tua komidi putar itu,entah kenapa...
Hampir semua yang tinggal di perumahan ini adalah juga penduduk baru,karna penghuni lama nya secara serentak pindah dan menjual rumah-rumah apik mereka dengan harga murah,maka tak sulit bagiku mencari teman karna aku sendiri juga orang yag lumayan terbuka,termasuk pada ide-ide gila yang kali ini datang dari Ryo sahabat ku.
“gimana,pada mau nggak?”
Kami semua saling berpandangan,Ania menatap ku,dari pertama aku bergabung dengan geng yang gak jelas ini Ania sudah mengatakan kalau ia suka padaku,tapi dengan berat ku katakan kalau kami hanya bisa berteman
“woy!kok pada diem aja sih,gimana Ren,lo setuju gak?”
Aku menggaruk kepalaku bingung,biasanya aku langsung setuju jika itu hanya ide gila untuk tidur semalaman di toilet perempuan bagi yag nilai matematika nya paling rendah atau push-up di tengah jalan,tapi ini....mengunjungi taman roh!
“Ya udah gapapa,asal jangan minggu ini,aku da janji nemenin ibu belanja perabotan”
Kataku akhirnya yang di sambut desahan yang lain “beneran ya,ih jujur gue takut tau ama tuh taman”Silvy yang langsung pucat mendengar ide gila Ryo akhir nya angkat bicara
Aku meng-iyakan dalam hati,tapi gimana aku sudah terlanjur mendukung si peringkat dua di kelas yang penggemar akut uji nyali ini,”lo gimana do?”kataku pada cowok tambun yang sedari tadi masih memakan gorengan tanpa terusik sedikit pun
“gue mah oke-oke aja”dodo kembali memasukan gorengan ke mulut nya
“Baiklah berarti semuanya setuju ya,karna minggu si-ren ada janji ma nyokap nya berarti kita kesana nya sabtu,ok??”
Semuanya tersenyum kecut,karna akhirnya berjanji datang dan harga mati untuk sebuah persahabatan adalah menepati janji apapun taruhannya.
Hari yang tak di nantikan itu pun tiba,aku,Silvy,Ryo dan Dodo sudah berkumpul di kamar ku dengan masing-masing membawa senter dan uang 5000 rupiah,sedang Dodo memakai tas ransel besar yang semuanya berisi makanan”kau kira kita ini akan berpiknik kawan?”
ketika ditanya begitu ia hanya tersenyum memperlihatkan gigi-gigi nya yang hampir semuanya bekas tambalan,sisanya telah dicabut karna tak bisa lagi ditambal akibat kegemaran nya mengemut coklat kapanpun,bahkan sambil tidur!
Ryo yang memang sudah mencari informasi tentang seluk beluk taman itu mengatakan jika kami mau memasuki gerbang taman harus membayar agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di harapkan,kami juga harus mengikat tali di pinggang kami masing-masing yang ujung nya di ikatkan pada gerbang agar jika ada apa-apa kita bisa langsung berlari dengan menarik tali itu hingga sampai di gerbang dan keluar karna taman itu cukup luas dan malam ini bulan agak nya malas muncul untuk membantu ide gila kami ,pikiran yang praktis menurutku meski lebih praktis kalau rencana yang membuat jantungku belum apa-apa udah deg-deg an ini dibatal kan saja.
“wah,ren lo bisa liat taman itu dari sini ya”
Ryo yang membuka gorden kamar ku tersenyum lebar,dan aku hanya tersenyum mengangguk,Dodo dan Silvy lalu maju saat ryo mulai membuka jendelanya,seketika hawa dingin menyeruak masuk memenuhi kamar yang membuat bulu kuduk ku berdiri,Silvy yang agak nya merasakan hal yang sama dengan ku duduk didekat ku,menjauhi Ryo yang masih terpesona pada pemandangan gelap di depan nya,bahkan Dodo yang biasaya tak merasakan apapun selain makanan pun ikut menjauhi jendela dan tersenyum kecut padaku
TOK...TOK...
KYAAAAA.....Silvy dan Dodo langsung berhambur memeluk ku hingga aku sesak nafas,dan demi melihat itu Ryo tertawa terbahak-bahak sambil membuka pintu
“kenapa kalian?”ibu masuk dan menaruh jus serta kue di meja belajar ku,Silvy dan Dodo melepaskan pelukan ku dan tertawa kecil pada ibu yang memandangi kami heran
“gak apa-apa kok tante,tadi serem aja liat jendela”
“oh,makanya jendelanya ditutup aja ya”
Ibu menutup jendela,dan disana...ya tepat sebelum ibu menutup gorden aku melihat seorang anak kecil yang tengah memandang ku lurus,lewat jendela itu
”tunggu bu”
aku membuka gorden kembali tapi tak ada apa-apa,tak ada anak kecil disitu,apa aku berhalusinasi?
“kenapa ren?”aku menolah pada ibu dan teman-teman ku yang menatap ku heran,ah...pasti halusinasi,mana mungkin ada anak kecil di pinggir jendela tingkat dua yang tidak ada balkom nya
“nggak kok,aku salah liat,hehe”
Semuanya mendesah”oya,tadi Ania telfon dan bilang tidak bisa ikut kalian karna maag nya kambuh”
“apa tante,Ania bilang begitu?”
“Yang telfon tadi orangtua nya karna Ania harus di bawa ke klinik,tapi memang kalian ini mau kemana kok pake bawa ransel segala sih Dodo?”
“ah tante kayak gak tau Dodo aja,ke Mall juga Dodo mah harus bawa ransel penuh makanan,kalo gak habis persediaan makanan di Mall ama dia,kita Cuma mau jalan-jalan ke tempat temen kok tante”
Ryo tertawa sambil menenggak jus nya,aku tak mengatakan apa-apa karna pantang bagiku berbohong pada orangtua apalagi ibu sendiri,apalagi hanya untuk menutupi kemauan gila Ryo
Setelah menelfon balik Ania kami lalu memutuskan berangkat ber empat setelah ayah dan ibuku pergi,dengan begitu takan ada yang tau kami kesana,karna pasti takan ada yang di restui orang tua nya.
Setelah melewati jalan setapak yang di tumbuhi ilalang panjang tibalah kami di grbang pintu taman yang ringsek di tembus kontainer saat berusaha memindahkan sisa-sisa kebakaran,maka yang tampak dari taman ini hanyalah sebuah komidi putar raksasa yang di kelilingi rimbunana ilalang setinggi dada dan rimbunan pepohonan yang cabang-cabang nya mirip seperti cakar hewan,hawa dingin mulai terasa menyengat,sesekali angin berhembus kencang dan kincir raksasa itu berderit mengerikan menggesekan besi-besi tua nya yang masih tampak kekar meski tujuh tahun yang lalu telah terbakar habis hingga menyisakan kerangkanya saja yang hitam gosong.
Ryo sudah menaruh uang dan mengikat pinggang nya dengan ujung nya pada gerbang,ia lalu mulai menarik tali itu di tangan nya dan bersiap memasuki taman,begitu juga Silvy dan Dodo
“cepetan dong ren”aku bergegas mengikat pinggang ku dan menaruh uang di ruang bekas pembelian tiket seperti di bioskop jaman belanda yang kesemuanya sudah menghitam,gosong
ah,aku menjatuhkan uang seribu ku dan di bawah saat aku akan mengambil nya kulihat sebuah benda putih yang tertutup ilalang,dengan ragu aku mengambil benda itu yang ternyata sebuah boneka perempuan yang masih utuh,walau baju nya sedikit terbakar dan yang pasti amat kotor tapi badan boneka itu utuh.
“ada apa ren”Ryo mendekati ku dan melihat boneka itu,”aneh bukan”kataku menatap nya,ia mem bolak-balik boneka itu”apanya yang aneh sih”
Aku tercekat,apa Ryo tak menyadari nya? “mungkin ini boneka salah seorang pengunjung taman ini,kotor banget pasti udah lama banget ya disini”Silvy lalu menyerahkan boneka itu pada Dodo”mungkin ini terjatuh saat terjadi kebakaran di tempat ini,pemilik nya pasti bernama melisa,liat ada tulisan nya”aku merebut boneka itu dan melihat tulisan di punggung boneka itu,coretan anak kecil’punya melisa’
“karena nya,apa kalian tidak aneh,hampir semua yang ada disini terbakar saat kejadian itu,tapi mengapa boneka ini masih utuh?”aku melihat wajah mereka yang tersadar akan maksudku”mungkin itu milik anak kecil di sekitar sini yang tidak sengaja terjatuh,udah deh ngapain sih mikirin boneka itu,dah buang aja ayo kita masuk keburu kemaleman”
Ryo lalu masuk diikuti Silvy dan Dodo,dan dengan terpaksa aku mengikuti mereka “kok boneka nya masih kamu pegang ren”Silvy mengarahkan senter nya pada boneka yang ku pegang itu”biarin lah,kalo emang bener kata si Ryo tar gue cari melisa dan balikin boneka ini”
Jangaaan....
“hah? Lo ngomong apa Vy?” Silvy menoleh padaku”apaan,aku nggak ngomong apa-apa”tapi tadi rasanya aku mendengar seseorang berbicara,
Jangan masuk....
Aku menoleh dan lagi-lagi Silvy menatap ku aneh,jika bukan dia lalu suara siapa itu,tak mungkin suara Ryo ataupun Dodo karna mereka telah jauh di depan dan itu suara perempuan
“aduh”karna melamun aku menabrak cabang pohon yang tumbag dan boneka itu terjatuh dari tangan ku,Silvy telah sampai di depan pagar yang mengelilingi komidi putar itu bersama Ryo dan Dodo,mereka terkesima begitu juga aku
komidi putar itu lebih besar dan tinggi dari yang biasa terlihat dari kamar ku,besi-besi nya yang besar ditumbuhi ilalang dengan lebat,dan entah apa aku berhalusinasi tapi disana,ditiap-kerangkanya yang berbentuk seperti kurungan itu kulihat dengan samar bayangan orang,ya...tak jelas karna gelap tapi seperti bayangan banyak orang!
‘ah’aku memalingkan wajah ku cepat’pasti halusinasi lagi,kenapa sih aku penakut banget mereka aja nggak ngerasin apa-apa kok’
Aku memungut boneka melisa,namun disana-dikepala boneka itu sebuah tangan kecil putih samar terlihat,aku mendongak dan terbelalak pada apa yang kulihat,di depan ku-kami hanya terpisah panjang badan boneka ini berdiri seorang anak kecil yang badan nya transparant oleh hijau nya ilalang,dan....ia...tersenyum padaku...
Bersambung...
| 118 dibaca | 2 komentar | 2 jempol |
| Tweet |
|